true story : from sobat (sriyanto)
alkisah disuatu dusun di daerah delanggu, beberapa pemuda desa tergerak hati karena suatu keadaan ekonomi mencoba untuk mencari solusi mendapatkan pekerjaan bagi pemuda-pemuda dikampungnya. singkat cerita mereka mendirikan koperasi yang tujuannya sangat mulia. koperasi kan memang dari anggota untuk anggota, ya kan. suatu saat, ide sudah didapatkan dan sudah dicoba untuk dikembangkan dan berhasil, yaitu membuat jamur merang dirumah masing-masing dan hasilnya diserahkan kepada koperasi untuk dipasarkan. melalui koperasi diharapkan perkumpulan pemuda mandiri menjadi lebih kuat, harga bisa standar dan koperasi dan anggota besar bersama-sam. sehingga untuk itu, koperasi melakukan training kepada para anggotanya bertani jamur merang dan “harapanya semoga berhasil dan memberikan kontribusi buat koperasi dan anggotanya ” ternyata……
usah ini cukup jitu, namun….. beberapa anggota yg sudah bertani dirumah banyak yg “salah jalan” dengan memilih menjadi orang yang dibayar oleh tengkulak untuk mengelola ladang si tengkulak dengan bayaran yang katanya lebih tinggi.
memang siapa yang tidak butuh uang saat ini, presiden aja butuh,… ya ndak,…. cuma untuk para tengkulak tolong didengarkan, daripada “nyerobot” rezeki untuk orang banyak, kan masih banyak jalan mencari rezeki yg halal, dijamin tidak barokah deh, hehehe….. kalo mau menolong mereka, ya biarkan mereka meneruskan bertani dirumah masing-masing dan modalilah kemudian pake sistem bagi hasil,… bukan jadi karyawan trus nanti kalo tengkulak pinter trus ditendang,…..hm….
nah sekarang, buat siapapun yg ngebaca,…. “pengalaman adalah guru yang paling baik”, pelajaranya adalah, ketika pemuda sudah akan menjadi “mandiri” dan diajak menjadi karyawan dengan iming-iming bayaran yg tinggi adalah LANGKAH YG SALAH karena si pemuda menjadi BURUH or KARYAWAN lagi. kalo mau berhitung, memang untuk menjadi sukses lewat usaha sendiri alias mandiri memang susah tapi bisa, butuh komitmen tinggi dan bermacam tantangannya. dalam waktu 1 tahun misalnya, dia mandiri dirumah bertani, saya yakin si pemuda akan jauh mendapatkan hasil yang LEBIH BESAR daripada jadi “anak peras” tengkulak. WHY…
hidup mandiri penuh tantangan, tapi begitu tantangan terlewati, banyak contohnya….. SUKSES, tantangan datang silih berganti, masalah hadir tak kenal waktu, yang penting mah,….
kita hadapi dan jangan lari,….SIAPA TAKUT,…. berani hidup berani menghadapi tantangan.